Percobaan HIV
yaitu prosedur pemeriksaan yang dikerjakan untuk mendeteksi infeksi HIV pada
tubuh pasien. Dengan terdeteksinya HIV, kecuali bermanfaat bagi dirinya
sendiri, individu hal yang demikian juga dapat lebih berhati-hati agar tak
menyebarkan HIV kepada orang lain.
Ada dua sistem dalam percobaan HIV, yaitu percobaan HIV yang memeriksa antibodi yang diproduksi
oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respon kepada infeksi HIV, dan percobaan
HIV yang memeriksa keberadaan virus hal yang demikian dalam tubuh. Percobaan
HIV memiliki beberapa fungsi penting antara lain untuk mencegah penyebaran HIV,
mendeteksi infeksi HIV semenjak dini, serta mendeteksi darah, produk darah,
atau organ dari pendonor sebelum diberikan kepada pasien lain. Dengan deteksi
semenjak dini, karenanya pengobatan menjadi lebih kencang, serta risiko
penularan virus dapat diturunkan.
Percobaan HIV
terdiri atas bermacam ragam dan tak ada percobaan HIV yang total. Karena itu,
terkadang perlu dikerjakan beberapa percobaan atau pengulangan kepada percobaan
untuk menentukan diagnosis.
Ada tiga ragam utama percobaan HIV, antara lain:
Percobaan antibodi, yaitu ragam pemeriksaan untuk mendeteksi
antibodi HIV dalam darah. Antibodi HIV yaitu protein yang diproduksi tubuh
sebagai respon kepada infeksi HIV.
Percobaan antibodi terdiri atas beberapa ragam, antara lain:
·
ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay). ELISA
yaitu percobaan HIV yang lazimnya
diaplikasikan sebagai langkah awal untuk mendeteksi antibodi HIV. Sampel darah
yang telah diambil akan dibawa ke laboratorium dan dimasukkan ke dalam wadah
yang telah diberikan antigen HIV. Berikutnya, enzim akan dimasukkan ke dalam
wadah hal yang demikian untuk mempercepat respon kimia antara darah dan
antigen. Sekiranya darah mengandung antibodi HIV, karenanya darah akan mengikat
antigen hal yang demikian di dalam wadah.
·
IFA (immunofluorescene antibody assay).
Percobaan yang dikerjakan dengan menerapkan pewarna fluoresens untuk
mengidentifikasi keberadaan antibodi HIV.
Pengamatan dikerjakan dengan bantuan mikroskop beresolusi tinggi. Percobaan ini
lazimnya diaplikasikan untuk mengonfirmasi hasil percobaan ELISA.
·
Western Blot. Percobaan yang dikerjakan dengan
menerapkan sistem pemisahan protein antibodi yang diekstrak dari sel darah.
Sebelumnya, percobaan ini juga diaplikasikan untuk mengonfirmasi hasil
percobaan ELISA, melainkan ketika ini Western Blot telah jarang diaplikasikan
sebagai percobaan HIV.
·
Percobaan PCR (polymerase chain reaction).
Percobaan yang diaplikasikan untuk mendeteksi RNA atau DNA HIV dalam darah. Percobaan PCR dikerjakan dengan sistem
memperbanyak DNA via respon enzim. Percobaan PCR dapat dikerjakan untuk
menentukan keberadaan virus HIV ketika hasil percobaan antibodi masih
diragukan.
·
Percobaan kombinasi antibodi-antigen (Ab-Ag
test). Percobaan yang dikerjakan untuk mendeteksi antigen HIV yang dikenal dengan p24 dan antibodi HIV-1 atau HIV-2. Dengan
mengidentifikasi antigen p24, karenanya keberadaan virus HIV dapat terdeteksi
semenjak dini sebelum antibodi HIV diproduksi dalam tubuh. Tubuh lazimnya
membutuhkan waktu 2-6 pekan untuk memproduksi antigen dan antibodi sebagai
respon kepada infeksi.
Perdarahan dapat terjadi pada pasien HIV dengan gangguan pembekuan darah. Konsumsi obat pengencer darah,
seperti aspirin dan warfarin, sebelum prosedur pengambilan darah akan
meningkatkan risiko perdarahan. Segera hubungi dokter bila mengalami situasi
ini.
No comments:
Post a Comment